Tuapejat – MTsN 1 Kepulauan Mentawai kembali melaksanakan Upacara Bendera Hari Senin yang diikuti oleh seluruh peserta didik, dewan guru, serta tenaga kependidikan di halaman madrasah, Senin pagi. Kegiatan berlangsung dengan tertib, khidmat, dan penuh semangat sebagai wujud pembinaan karakter serta penanaman nilai-nilai kebangsaan.
Dalam amanatnya, pembina upacara yaitu Ardi Akmal, S.Pd.I, menyampaikan apresiasi kepada seluruh petugas upacara yang telah melaksanakan tugas dengan baik dan penuh tanggung jawab. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh peserta upacara yang telah mengikuti rangkaian kegiatan dengan tertib dan khidmat.
Pembina upacara berharap penampilan petugas upacara pada pekan ini dapat menjadi contoh bagi kelas-kelas lain untuk terus meningkatkan kualitas pelaksanaan upacara, bahkan mampu tampil lebih baik pada kesempatan berikutnya.
Beliau juga mengingatkan pentingnya menumbuhkan jiwa bela negara melalui penghormatan terhadap Sang Merah Putih. Berkibarnya bendera Merah Putih yang setiap hari disaksikan merupakan hasil perjuangan para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raga. Oleh karena itu, seluruh warga madrasah diajak untuk senantiasa menghargai jasa para pahlawan dengan menjaga persatuan, disiplin, dan semangat cinta tanah air.
Pada kesempatan tersebut, pembina upacara mengangkat tema “Bahaya Berbuat Zalim”. Dalam penyampaiannya dijelaskan bahwa kezaliman tidak selalu berupa tindakan fisik, tetapi juga dapat terjadi melalui ucapan yang menyakiti hati orang lain.








“Ada tangis yang tidak mengeluarkan air mata, ada luka yang tidak mengalirkan darah, dan ada hati yang tampak tertawa namun sesungguhnya sedang bersedih. Semua itu bisa terjadi karena tajamnya lisan seseorang,” pesan pembina upacara.
Beliau mengingatkan agar peserta didik tidak menjadikan candaan sebagai alasan untuk menyakiti teman. Ucapan yang dianggap sebagai lelucon dapat membuat seseorang kehilangan rasa percaya diri, dihantui ketakutan, enggan bergaul, bahkan tidak memiliki semangat untuk datang ke sekolah.
Pembina upacara menegaskan bahwa bullying bukanlah persoalan sepele. Berbagai kasus perundungan yang terjadi belakangan ini menjadi pengingat bahwa setiap warga sekolah memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan saling menghargai.
Sebagai penguat pesan tersebut, beliau mengutip firman Allah SWT dalam QS. Hud ayat 18:
“Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) kepada orang-orang yang zalim.”
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa Allah SWT sangat membenci segala bentuk kezaliman, baik melalui perbuatan maupun perkataan.
Selain itu, pembina upacara juga mengingatkan hadis Rasulullah SAW, “Khairunnas anfa’uhum linnas“, yang berarti sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Setiap peserta didik diharapkan mampu menjadi pribadi yang membawa manfaat, bukan justru menyakiti orang lain.
Beliau juga menjelaskan makna hadis “Atadrunal Muflis?” tentang orang yang bangkrut di akhirat. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa orang yang benar-benar bangkrut bukanlah mereka yang tidak memiliki harta, melainkan orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala salat, puasa, dan zakat, tetapi pahala tersebut habis karena pernah menzalimi, menghina, mencela, atau menyakiti sesama manusia.
Di akhir amanatnya, pembina upacara mengajak seluruh peserta didik untuk senantiasa menjaga lisan, sikap, dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan saling menghormati, menghargai, serta menjauhi segala bentuk kezaliman dan perundungan, diharapkan MTsN 1 Kepulauan Mentawai dapat menjadi lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, religius, dan penuh kasih sayang.
Upacara ditutup dengan doa bersama dan berlangsung dengan lancar hingga seluruh rangkaian kegiatan selesai.
